Tuesday, June 14, 2011

Wadah Hati...

Assalamualaikum Wr.wb.
Izinkan saya menyampaikan suatu kisah  yg Insya Allah bermanfaat buat Anda, wahai muslimin & muslimat yg dirahmati oleh Allah SWT.

WADAH HATI



Suatu ketika hiduplah seorang  tua yang bijak. Pada suatu pagi, dating bertamu seorang pemuda yang sedang  dibelenggu masalah. Langkahnya lemah dan air mukanya murung menampakkan keresahan yang dihadapinya. Pemuda itu memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu pemuda itu terus menceritakan kesemua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan saksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu digaulnya perlahan. 

"Cuba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", ujar pak tua.

"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda  itu sambil meludah ke sisinya.

Pak tua itu tersenyum sedikit. Ia lalu mengajak pemuda itu untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan tempat tinggalnya. Kedua  orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sebatang kayu ia menggaulnya. 

"Cuba ambil air dari telaga ini dan minumlah."

Ketika pemuda itu meneguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar ", sahut pemuda itu.

"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.

"Tidak, " sahut pemuda itu.

Pak tua itu  menepuk bahu pemuda itu lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. " anak muda, dengarlah  :pahitnya kehidupan, adalah bak segenggam serbuk pahit, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama; tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat bergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan diandaikan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan bergantung dari hati kita sendiri. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya  itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak tua itu meneruskan kata nasihatnya : "Hatimu adalah wadah itu; perasaanmu adalah tempat itu; kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan  merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu  beranjak pulang, dan sama-sama belajar pada hari itu. Dan pak tua, kembali menyimpan serbuk pahit, untuk anak  muda lain yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa.


*********************************
"YA RABB!  Semanis-manis pemberianMu dalam kalbuku ialah perasaan harapku terhadapMu dan  seenak-enak perkataan pada lidahku ialah memujiMu, sedang yang paling aku rindukan ialah saat berjumpa denganMu"

No comments:

Post a Comment